Sabtu, 28 April 2018

Menjadi Time Traveler Akan Butuh Banyak Koreksi

Senja di Kuta Kala Gelap Memesona
Jatuh bangun menjadi suatu hal biasa dalam kehidupan. Tapi kalau jatuh, terus enggak bangun-bangun itu baru namanya enggak biasa. Bagaimanapun kita jatuh, pasti ada usaha untuk mengobati diri, melindungi diri, dan menghindari suatu bahaya itu agar gak melukai hati --- sekip.

Kamis, 18 Juni 2015

Menerka Cuaca Diri

Jika dulu beningnya seperti gelas kaca, seberapa noda yang kini menjamur di sekitarannya?
Jika dulu segagah kayu jati yang menjulang, sudah sekeropos apa kini di dalamnya?

Minggu, 14 Juni 2015

Terlalu Banyak Topeng

Bagaimana cara menilai sebuah ketulusan?

Untuk banyak topeng di antara kawan, yang tersamar menjadi lawan. Pada wajah-wajah penyapa yang mewujud keramahan, tak ubah hanya manusia yang menumpuk seribu prasangka, memupuk sejengkal demi sejengkal kedengkian, membenamkannya ke dalam palung terdalam. 

Tak pernah ditahu, mana kawan, mana  lawan. Persepsi dan spekulasi yang kemudian hanya menelurkan buah prasangka. Lagi-lagi penceloteh seperti itu, lebih fasih di belakang layar. Bak aktor dan aktris yang memerankan skenario buatan. Pandai sekali menuturkan perihal A, B, C, dan D, yang ternyata semua tak jauh dari rekaan, atau hanya sebuah simpulan dangkal.

Ah, rasanya penat dan muak. Beginikah hidup di tengah banyak pencitraan?
Mereka yang mengejar fana dan rela dipermainkannya. Tak sadarkah? hidup takkan pernah tanpa pengawasan. Hati yang dibiarkan hening berbisik pun, sesungguhnya tak luput dari pendengaran.
Sungguh pada akhir ini, kau telah temui banyak kecurangan. Pemenggalan idealisme, pengecewaan kepercayaan, penuh hasut dan mendengki.

Sesak, Tuan!

Jumat, 12 Juni 2015

Secangkir Kehidupan


Life quotes



Berjalan memijak dalam kefanaan ini, semestinya langkah bisa jadi penawar sebab gelisah, murung, kecewa, patah, penat, dan lain halnya yang gak ngenakin. Karena sejatinya kita akan terus bergerak, melalui tanjakan-tanjakan yang memang sudah disediakan khusus untuk kita hadapi. Berproses, untuk kemudian menuai hasil dari bibit yang tersemai.


Syukur tak pernah lelah. Walau cuaca sering berganti menjadi lengah. Lupa akan membedakan yang mana benar dan salah, yang boleh, atau justru meragukan. Baik kemarin atau pun saat ini. Keduanya memang dirasa tak sama. Demi masa, di mana manusia sesungguhnya berada dalam kerugian. Kecuali yang beriman dan beramal shalih. Yang saling menasehati dalam kebaikan, dan berpesan-pesan dalam sabar.


Dan, ya..

Maka sebenarnya, bumi ini hanya tempatku untuk berkelana. Yang harusnya tak lelah untuk belajar, tidak bersantai, maupun pasrah sebelum takdirNya. Malam ini akhirnya kembali teringatkan, dirimu hari ini, tak lepas dari hari kemarin. Di mana tiap lembar yang terlewatkan, lebih harusnya menjadi dasar untuk terus tergiati dan termotivasi dalam perbaikan setiap hari.


Semoga senantiasa dijernihkan dalam pikir, rasa, dan sikap.

Rabu, 10 Juni 2015

Pada Senja, Di mana Aku Merindu




Pada pagi, yang sama-sama kita ketahui. Mengenang hangat, secangkir teh dan kopi. Ya, kopi memang jadi minuman kesukaanmu, selain segelas air mineral yang selalu kau minum, tiap kali bangun tidur. Usai itu kau beranjak ke halaman rumah. Mengecek tanaman anggrekmu, lalu menyiraminya. Hobimu dengan tanam-menanam tumbuhan memang tak terpisahkan.