Rabu, 10 Juni 2015

Pada Senja, Di mana Aku Merindu




Pada pagi, yang sama-sama kita ketahui. Mengenang hangat, secangkir teh dan kopi. Ya, kopi memang jadi minuman kesukaanmu, selain segelas air mineral yang selalu kau minum, tiap kali bangun tidur. Usai itu kau beranjak ke halaman rumah. Mengecek tanaman anggrekmu, lalu menyiraminya. Hobimu dengan tanam-menanam tumbuhan memang tak terpisahkan.

Ya, pukul enam yang nyaris tak terlewatkan setiap Minggu. Ku hidangkan dua minuman berbeda itu di beranda. Sambil ku lanjuti buah karyaku. Rajutan Syal abu untuk diberikan pada ulang tahunmu. Katanya, sebuah karya merupa hadiah terbaik untuk orang yang dikasihi. 

Dari jauh, kau segera menghampiri.

"Selamat Pagi, Tuan Putri.."

Sapamu tak pernah bosan, selalu pada tatapan hangat. Kalimatmu menggodaku seakan kita masih sepasang pengantin baru. Pagi itu pun kita berbincang, melakukan diskusi-diskusi ringan, yang panjang dan berkelanjutan. Usia senja tak jadi alasan, sebab kita rasanya tak pernah merasa bosan barang sejengkal. Justru kisah terus mengalir, bersiklus sesuai air yang bermuara pada lautan. Tak sadar, hingga cerita demi cerita selalu saja terulang.

Di istana kecil ini, kita habiskan senja hanya berdua. Ya, kau tetap bahagia walau kodratku sebagai seorang wanita tak dapat memberimu keturunan, seperti pasangan lainnya. Namun hal itu terobati, dengan tumbuhnya gadis kecil itu yang sama-sama kita jemput dari panti.  

Puput Kinanti.

Dia, perempuan yang selalu menyenangkan hati. Tak sampai aku dapat melihatnya dewasa. Pada ulang tahunnya yang genap ke sembilan. Padahal, kue berhias kembang gula itu sudah tersaji sejak pukul empat sore. Menunggu kehadiran Puput, yang pulang dari perlombaan mengajinya. Bersama Gema, suamiku. 

Rasa-rasanya sudah sangat bahagia. Kuanggap kue sederhana buatanku itu sekaligus menjadi salam terhangat atas kemenangannya. Namun, rupa kisah tidak sama tertulis dalam kenangan. Menyambut tawa mereka, sebatas gelap langit yang meluruh bersama hujan.

Saat itu jantungku mendadak lemah. Sempat tak sadarkan diri juga katanya. Bagaimana tidak? Dalam detik, kabar itu memenggal setengah nyawaku.

"Mo..mobil Pak Gema masuk ke jurang, bu." kata Pak Maman, dengan ujarannya yang sedikit terbata. Menambah rasa getir dan lemas tubuh, hingga kaki seakan hilang dari pijakannya.

Ya, hujan bersama tangis kepergian. Pergi yang tanpa dapat kutemui lagi dalam keadaan merindu. Bahkan menyapa pun, hanya sanggup bercerita, menangis dalam doa.

Hari ini, ku lewati masa senja sendiri. Ku nikmati sajak ilahi, Al-quran kecil beludru merah jambu. Yang kala itu, belum sempat terberikan padanya. Sekotak hadiah berbungkus kertas hias dan pita merah.

Setiap penghabisan senja dan dini hari, aku mentadaburinya. Menguntai doa dan kerling air mata terajut basah di pipi. Dengan harap, kelak rindu berjumpa di taman surgaNya.

Hari ini, dalam hujan. Kembali kusadari, tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Begitupun dalam aku mengecap senja ini. Esok atau lusa, kelak aku juga pasti kembali.


“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” 
(Yunus : 49)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar