Bagaimana cara menilai sebuah ketulusan?
Untuk banyak topeng di antara kawan, yang tersamar menjadi lawan. Pada wajah-wajah penyapa yang mewujud keramahan, tak ubah hanya manusia yang menumpuk seribu prasangka, memupuk sejengkal demi sejengkal kedengkian, membenamkannya ke dalam palung terdalam.
Tak pernah ditahu, mana kawan, mana lawan. Persepsi dan spekulasi yang kemudian hanya menelurkan buah prasangka. Lagi-lagi penceloteh seperti itu, lebih fasih di belakang layar. Bak aktor dan aktris yang memerankan skenario buatan. Pandai sekali menuturkan perihal A, B, C, dan D, yang ternyata semua tak jauh dari rekaan, atau hanya sebuah simpulan dangkal.
Ah, rasanya penat dan muak. Beginikah hidup di tengah banyak pencitraan?
Mereka yang mengejar fana dan rela dipermainkannya. Tak sadarkah? hidup takkan pernah tanpa pengawasan. Hati yang dibiarkan hening berbisik pun, sesungguhnya tak luput dari pendengaran.
Sungguh pada akhir ini, kau telah temui banyak kecurangan. Pemenggalan idealisme, pengecewaan kepercayaan, penuh hasut dan mendengki.
Sesak, Tuan!