Aku datang di kotamu. Menggenapi janji yang lepas beriring setelah kita sama-sama lelah sendiri. Ketika ku sampai pada pagi, senja di benakmu mulai luruh bercerai. Walau biasnya masih dapat ku rasakan pilu, tapi aku akan segera tahu..
Ada senja yang esok hari lebih baru. Senja yang kau pandangi seksama dengan wujud baru di sampingmu. Senja yang meluap sejuta harap, yang pernah sama-sama kita terbangkan dalam do'a, mimpi, serta hela napas.
Dan, ya..
Aku ataupun kau tak pernah saling tahu saat itu. Bahwa ada sebingkis kisah yang lebih Ia rencanakan. Semesta harap yang nyatanya lebih mengantarkanmu pada ngarai yang belum pernah tersapa. Kiranya, sudut pagi di ngarai sepi itu mewujud tempat dalam aku sampai di persinggahan terakhir.
Walau senja selalu berujar indah,
Walau senja adalah masa paling berharga
Karena tanpanya, aku ataupun kau, tak kan pernah saling menemukan.
Kini, adalah sebab pagi selalu ku ungkapkan lebih baik. Karena pagi, Tuhan merindu kita beriring dalam langkah yang kelak menguatkan satu sama. Di mana senja, seharusnya sudah tidak akan kau rasa getir. Cukuplah pagi maupun senjamu yang kelak mengantarkan kita pergi tinggalkan fana, menuju kekal rinduNya.
Aku yang kini merasa tergenapi,
Berusaha membingkis Pagi.

Kenapa gua selalu pengen nangis baca ini ya... huft *tahantahan*
BalasHapus