Minggu, 07 Juni 2015

Perihal Meredam dan Memendam




Dalam diam, hatimu berbicara. Hm, ya lagi-lagi dia meronta. Sepi sendiri, padahal sekitarnya begitu ramai. Pikir pun mulai lelah bercabang. Merutuki diri penuh gusar, serta dihinggapi beberapa sebab yang membuat patah, cuaca pun tak enak.

Jika diam adalah satu alasan, 
dan jika diam bermakna kesabaran. 


"Benarkah demikian?"


Nyatanya diam yang itu lebih memilukan. Diam yang terkadang beku bagai es di kutub. Beku yang membuat tepian hati menambah titik kelabu. Padahal bunga taman lebih merindu langit yang biru.

Mengapa harus diam? Jika diammu itu, hanya sanggup memendam yang justru tak hanguskan jejaknya. Jika diam hanya sesak, memupuk benih kekesalan.

Hingga..
Diammu pada itu, me-le-dak.


Padam.

3 komentar:

  1. Terkadang kita lebih memilih untuk tetap diam dan dianggap bodoh daripada berbicara hanya untuk sebuah jawaban yang bodoh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diam nya yang mana nih, diam yang atas itu meredam amarah

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus